FIQIH

SIAPAKAH ORANG YANG MENDAPATKAN PETUNJUK ITU?

Orang yang mendapatkan petunjuk itu bukan orang yang “kokoh bin fanatik” pada guru tertentunya, juga bukan orang yang “ngotot” dengan pendapat komunitasnya, juga bukan orang yang membela mati-matian pemahaman afiliasinya, padahal fakta dari semua itu sebenarnya hanyalah taklid buta saja.

Orang yang medapatkan petunjuk itu di antara cirinya adalah orang yang mengambil kebenaran darimanapun ia berada, meskipun muncul dari orang yang dibenci dan dimusuhinya serta menolak kebatilan dari siapapun, meskipun muncul dari orang/kelompok/komunitas/afiliasi yang ia cintai.

Dengan kata lain, hanya orang yang sanggup IKHLASH dan INSHOF-lah yang dijamin mendapatkan petunjuk. Selain itu semuanya terancam sebagai pengikut hawa nafsu dan kelompok yang “salah jalan” meskipun dia merasa berada dalam kebanaran atau merasa sebagai calon penghuni surga. Ibnu Qoyyim berkata,

فمن هداه الله سبحانه إلى الأخذ بالحق حيث كان ومع من كان ولو كان مع من يبغضه ويعاديه ورد الباطل مع من كان ولو كان مع من يحبه ويواليه فهو ممن هدى لما اختلف فيه من الحق. فهذا أعلم الناس وأهداهم سبيلا وأقومهم قيلا وأهل هذا المسلك إذا اختلفوا فاختلافهم اختلاف رحمة (الصواعق المرسلة في الرد على الجهمية والمعطلة (2/ 516)


“Jadi, siapapun yang diberi petunjuk Allah swt untuk memungut kebenaran di manapun ia berada dan bersama siapapun kebenaran itu, meskipun kebenaran itu ada pada orang yang dibencinya dan dimusuhinya, dan (siapapun yang diberi petunjuk Allah swt untuk) menolak kebatilan yang ada pada siapapun, meskipun itu ada pada orang yang dicintainya dan bersahabat baik dengannya, maka dia (orang seperti ini) adalah termasuk mereka yang pendapatkan petunjuk terkait kebenaran yang diperselisihkan. Orang yang seperti ini adalah di antara manusia yang paling berilmu, paling jelas jalannya, dan paling kukuh argumentasinya. Orang-orang yang seperti itu jika berselisih, maka perselisihan mereka adalah rahmat” (Ash-Showa’iq Al-Mursalah fi Ar-Rodd ‘ala Al-Jahmiyyah wa Al-Mu’atthilah, juz 2 hlm 516)

Minimal tujuh belas kali dalam sehari kita selalu memohon petunjuk kepada Allah pada saat menjalankan kewajiban salat lima waktu,

{اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ} [الفاتحة: 6]


“Berilah kami petunjuk jalan yang lurus” (Al-Fatihah; 6)

Rasulullah ﷺ sendiri juga mengajarkan berdoa untuk meminta petunjuk terkait perselisihan yang ada di kalangan manusia, terutama dalam salat-salat malam kita,

أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (صحيح مسلم (4/ 168)


“(Ya Allah)..Engkau memberi keputusan terkait perselisihan yang terjadi di antara hamba-hamba-Mu. Berilah aku petunjuk kebenaran terkait apa yang diperselisihkan itu dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk siapapun yang Engkau kehendaki ke jalan yang lurus” (H.R. Muslim)

Oleh karena itu, barang siapa yang telah dianugerahi ikhlash dan inshof, yakni orang-orang yang telah siap menyalahkan kawan sepaham jika memang salah, dan siap menerima kebenaran meskipun muncul dari orang yang dibenci dan “dimusuhi” maka insya Alah doanya selama ini telah dikabulkan oleh Allah dan dia wajib menjaga nikmat tersebut sampai akhir hayat.

Semoga Allah menggolongkan kita termasuk orang-orang yang memiliki sifat ikhlash dan inshaf.

اللهم اهْدِنا لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنْ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

FIQIH
TELADAN KEIKHLASAN SHAHABAT SAAT DIKOREKSI

Tidak semua orang sanggup untuk rendah hati dan mengakui kesalahan…

FIQIH
SIAPAKAH ORANG YANG MENDAPATKAN PETUNJUK ITU?

Orang yang mendapatkan petunjuk itu bukan orang yang “kokoh bin

FIQIH
ARTI DHIGHTSAN ‘ALA IBBALAH

Kadang-kadang, ketika kita membaca teks Arab, kita mendapati…